Kontoversi Hukum rokok

Akibat Rokok 43 Juta Anak Terancam Penyakit Mematikan

*Yang mengejutkan adalah, tiga dari sepuluh pelajar menyatakan pertama 
kali merokok pada umur di bawah sepuluh tahun *(Dirjen Pengendalian 
Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes I Nyoman Kandun)

[JAKARTA] Sebanyak 43 juta anak Indonesia saat ini hidup serumah dengan 
perokok dan menghirup asap tembakau pasif atau asap tembakau lingkungan. 
Akibatnya, anak-anak tersebut terancam menderita penyakit mematikan, 
seperti pertumbuhan paru-paru yang lambat, mudah terkena bronkitis, 
infeksi saluran pernapasan, telinga dan asma, kata Direktur Jenderal 
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan I 
Nyoman Kandun, di Jakarta, Senin (7/5).

Dia mengingatkan, kenyataan itu sangat mencemaskan untuk masa depan 
bangsa ini. Sebab, kesehatan yang buruk di usia dini akan menurunkan 
ketahanan tubuh saat dewasa.

Mengutip sebuah survei 2006, Kandun menyebutkan, sebesar 37,3 persen 
pelajar dilaporkan biasa merokok. "Yang mengejutkan adalah, tiga dari 
sepuluh pelajar menyatakan pertama kali merokok pada umur di bawah 
sepuluh tahun," tutur Kandun.

Dia menyebutkan, secara umum konsumsi rokok di Indonesia dalam 30 tahun 
terakhir meningkat tajam, dari 33 miliar batang per tahun pada 1970, 
menjadi 230 miliar batang pada 2006. Prevalensi merokok di kalangan 
orang dewasa meningkat 26,9 persen pada 1995, menjadi 35 persen pada 2004.

Menurut dia, penggunaan tembakau diperkirakan menyebabkan 70 persen 
kematian karena penyakit paru-paru kronis. Dari gambaran data tersebut, 
ungkapnya, terlihat bahwa konsumsi rokok telah menjadi masalah kesehatan 
masyarakat yang harus segera ditangani secara serius, komprehensif dan 
konsisten.

Anggota Komisi IX DPR Hakim Sorimuda Pohan mengajak semua pihak bersatu 
agar RUU tentang Pengendalian Masalah Tembakau menjadi undang-undang 
sehingga persoalan rokok beserta dampaknya dapat dikendalikan.

Wakil rakyat yang juga dokter sepesialis kandungan itu memaparkan, 
berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik, jumlah perokok pemula 
(5-9 tahun) meningkat 400 persen, yakni dari 0,8 persen (2001) menjadi 
1,8 persen (2004) dari keseluruhan anak usia 5-9 tahun.

Dalam periode yang sama, terjadi pula peningkatan jumlah perokok usia 
10-14 tahun sebesar 21 persen, yakni dari 9,5 persen menjadi 11,5 persen 
dari jumlah anak dalam rentang usia tersebut. Peningkatan jumlah perokok 
juga terjadi pada kelompok usia 15-19 tahun, yakni dari 58,9 persen 
menjadi 63,9 persen dari jumlah anak dalam rentang usia itu.

*Pembiaran Pemerintah*

Sementara itu, pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Tulus 
Abadi menilai, tidak ada upaya serius pemerintah untuk memecahkan 
persoalan rokok.

Terbukti, sampai saat ini Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia 
Tenggara yang belum meratifikasi Kerangka Kerja Konvensi Pengendalian 
Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control/FCTC), yang disepakati 
dalam sidang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di Jenewa pada Mei 2003.
Hukum Merokok Sejak awal abad XI Hijriyah atau sekitar empat ratus
tahun yang lalu, rokok dikenal dan membudaya di berbagai belahan dunia
Islam. Sejak itulah sampai sekarang hukum rokok gencar dibahas oleh
para ulama di berbagai negeri, baik secara kolektif maupun pribadi.
Perbedaan pendapat di antara mereka mengenai hukum rokok tidak dapat
dihindari dan berakhir kontroversi. Itulah keragaman pendapat yang
merupakan fatwa-fatwa yang selama ini telah banyak terbukukan. Sebagian
di antara mereka menfatwakan mubah alias boleh, sebagian berfatwa
makruh, sedangkan sebagian lainnya lebih
cenderung menfatwakan haram. Kali ini dan di negeri ini yang masih
dilanda krisis ekonomi, pembicaraan hukum rokok mencuat dan menghangat
kembali. Pendapat yang bermunculan selama ini tidak jauh berbeda dengan
apa yang telah terjadi, yakni tetap menjadi kontroversi. Kontroversi
Hukum Merokok Seandainya muncul fatwa, bahwa korupsi itu hukumnya haram
berat karena termasuk tindak sariqah (pencurian), maka semua orang akan
sependapat termasuk koruptor itu sendiri. Akan tetapi persoalannya akan
lain ketika merokok itu dihukumi haram. Akan muncul pro dari pihak
tertentu dan muncul pula kontra serta penolakan dari pihak-pihak yang
tidak sepaham. Dalam tinjauan fiqh terdapat beberapa kemungkinan
pendapat dengan berbagai argumen yang bertolak belakang. Pada dasarnya
terdapat nash bersifat umum yang menjadi patokan hukum, yakni larangan
melakukan segala sesuatu yang dapat membawa kerusakan, kemudaratan atau
kemafsadatan sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah
sebagai berikut: Al-Qur’an : وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى
التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ.
البقرة: 195 Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam
kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang berbuat baik. (Al-Baqarah: 195) As-Sunnah : عَنْ ابْنِ
عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ. رواه ابن ماجه, الرقم: 2331 Dari Ibnu ‘Abbas
ra, ia berkata ; Rasulullah SAW. bersabda: Tidak boleh berbuat
kemudaratan (pada diri sendiri), dan tidak boleh berbuat kemudaratan
(pada diri orang lain). (HR. Ibnu Majah, No.2331) Bertolak dari dua
nash di atas, ulama’ sepakat mengenai segala sesuatu yang membawa
mudarat adalah haram. Akan tetapi yang menjadi persoalan adalah apakah
merokok itu membawa mudarat ataukah tidak, dan terdapat pula manfaat
ataukah tidak. Dalam hal ini tercetus persepsi yang berbeda dalam
meneliti dan mencermati substansi rokok dari aspek kemaslahatan dan
kemafsadatan. Perbedaan persepsi ini merupakan babak baru munculnya
beberapa pendapat mengenai hukum merokok dengan berbagai argumennya.
Seandainya semua sepakat, bahwa merokok tidak membawa mudarat atau
membawa mudarat tetapi relatif kecil, maka semua akan sepakat dengan
hukum mubah atau makruh. Demikian pula seandainya semuanya sepakat,
bahwa merokok membawa mudarat besar, maka akan sepakat pula dengan
hukum haram. Beberapa pendapat itu serta argumennya dapat
diklasifikasikan menjadi tiga macam hukum. Pertama ; hukum merokok
adalah mubah atau boleh karena rokok dipandang tidak membawa mudarat.
Secara tegas dapat dinyatakan, bahwa hakikat rokok bukanlah benda yang
memabukkan. Kedua ; hukum merokok adalah makruh karena rokok membawa
mudarat relatif kecil yang tidak signifikan untuk dijadikan dasar hukum
haram. Ketiga; hukum merokok adalah haram karena rokok secara mutlak
dipandang membawa banyak mudarat. Berdasarkan informasi mengenai hasil
penelitian medis, bahwa rokok dapat menyebabkan berbagai macam penyakit
dalam, seperti kanker, paru-paru, jantung dan lainnya setelah sekian
lama membiasakannya. Tiga pendapat di atas dapat berlaku secara
general, dalam arti mubah, makruh dan haram itu bagi siapa pun
orangnya. Namun bisa jadi tiga macam hukum tersebut berlaku secara
personal, dengan pengertian setiap person akan terkena hukum yang
berbeda sesuai dengan apa yang diakibatkannya, baik terkait kondisi
personnya atau kwantitas yang dikonsumsinya. Tiga tingkatan hukum
merokok tersebut, baik bersifat general maupun personal terangkum dalam
paparan panjang ‘Abdur Rahman ibn Muhammad ibn Husain ibn ‘Umar
Ba’alawiy di dalam Bughyatul Mustarsyidin (hal.260) yang sepotong
teksnya sebagai berikut: لم يرد في التنباك حديث عنه ولا أثر عن أحد من
السلف، ……. والذي يظهر أنه إن عرض له ما يحرمه بالنسبة لمن يضره في عقله
أو بدنه فحرام، كما يحرم العسل على المحرور والطين لمن يضره، وقد يعرض له
ما يبيحه بل يصيره مسنوناً، كما إذا استعمل للتداوي بقول ثقة أو تجربة
نفسه بأنه دواء للعلة التي شرب لها، كالتداوي بالنجاسة غير صرف الخمر،
وحيث خلا عن تلك العوارض فهو مكروه، إذ الخلاف القوي في الحرمة يفيد
الكراهة Tidak ada hadits mengenai tembakau dan tidak ada atsar (ucapan
dan tindakan) dari seorang pun di antara para shahabat Nabi SAW. …
Jelasnya, jika terdapat unsur-unsur yang membawa mudarat bagi seseorang
pada akal atau badannya, maka hukumnya adalah haram sebagaimana madu
itu haram bagi orang yang sedang sakit demam, dan lumpur itu haram bila
membawa mudarat bagi seseorang. Namun kadangkala terdapat unsur-unsur
yang mubah tetapi berubah menjadi sunnah sebagaimana bila sesuatu yang
mubah itu dimaksudkan untuk pengobatan berdasarkan keterangan
terpercaya atau pengalaman dirinya bahwa sesuatu itu dapat menjadi obat
untuk penyakit yang diderita sebagaimana berobat dengan benda najis
selain khamr. Sekiranya terbebas dari unsur-unsur haram dan mubah, maka
hukumnya makruh karena bila terdapat unsur-unsur yang bertolak belakang
dengan unsur-unsur haram itu dapat difahami makruh hukumnya. Senada
dengan sepotong paparan di atas, apa yang telah diuraikan oleh Mahmud
Syaltut di dalam Al-Fatawa (hal.383-384) dengan sepenggal teks sebagai
berikut: إن التبغ ….. فحكم بعضهم بحله نظرا إلى أنه ليس مسكرا ولا من
شأنه أن يسكر ونظرا إلى أنه ليس ضارا لكل من يتناوله, والأصل في مثله أن
يكون حلالا ولكن تطرأ فيه الحرمة بالنسبة فقط لمن يضره ويتأثر به. …. وحكم
بعض أخر بحرمته أوكراهته نظرا إلى ما عرف عنه من أنه يحدث ضعفا فى صحة
شاربه يفقده شهوة الطعام ويعرض أجهزته الحيوية أو أكثرها للخلل والإضطراب.
Tentang tembakau … sebagian ulama menghukumi halal karena memandang
bahwasanya tembakau tidaklah memabukkan, dan hakikatnya bukanlah benda
yang memabukkan, disamping itu juga tidak membawa mudarat bagi setiap
orang yang mengkonsumsi. …Pada dasarnya semisal tembakau adalah halal,
tetapi bisa jadi haram bagi orang yang memungkinkan terkena mudarat dan
dampak negatifnya. Sedangkan sebagian ulama’ lainnya menghukumi haram
atau makruh karena memandang tembakau dapat mengurangi kesehatan, nafsu
makan, dan menyebabkan organ-organ penting terjadi infeksi serta kurang
stabil. Demikian pula apa yang telah dijelaskan oleh Prof Dr Wahbah
Az-Zuhailiy di dalam Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh (Cet. III, Jilid
6, hal. 166-167) dengan sepotong teks, sebagai berikut: القهوة والدخان:
سئل صاحب العباب الشافعي عن القهوة، فأجاب: للوسائل حكم المقاصد فإن قصدت
للإعانة على قربة كانت قربة أو مباح فمباحة أو مكروه فمكروهة أو حرام
فمحرمة وأيده بعض الحنابلة على هذا التفضيل. وقال الشيخ مرعي بن يوسف
الحنبلي صاحب غاية المنتهى: ويتجه حل شرب الدخان والقهوة والأولى لكل ذي
مروءة تركهما Masalah kopi dan rokok; penyusun kitab Al-’Ubab dari
madzhab Asy-Syafi’i ditanya mengenai kopi, lalu ia menjawab: (Kopi itu
sarana) hukum, setiap sarana itu sesuai dengan tujuannnya. Jika sarana
itu dimaksudkan untuk ibadah maka menjadi ibadah, untuk yang mubah maka
menjadi mubah, untuk yang makruh maka menjadi makruh, atau haram maka
menjadi haram. Hal ini dikuatkan oleh sebagian ulama’ dari madzhab
Hanbaliy terkait penetapan tingkatan hukum ini. Syaikh Mar’i ibn Yusuf
dari madzhab Hanbaliy, penyusun kitab Ghayah al-Muntaha mengatakan :
Jawaban tersebut mengarah pada rokok dan kopi itu hukumnya mubah,
tetapi bagi orang yang santun lebih utama meninggalkan keduanya. Ulasan
‘Illah (reason of law) Sangat menarik bila tiga tingkatan hukum merokok
sebagaimana di atas ditelusuri lebih cermat. Kiranya ada benang ruwet
dan rumit yang dapat diurai dalam perbedaan pendapat yang terasa
semakin sengit mengenai hukum merokok. Benang ruwet dan rumit itu
adalah beberapa pandangan kontradiktif dalam menetapkan ‘illah atau
alasan hukum yang di antaranya akan diulas dalam beberapa bagian.
Pertama; sebagian besar ulama’ terdahulu berpandangan, bahwa merokok
itu mubah atau makruh. Mereka pada masa itu lebih bertendensi pada
bukti, bahwa merokok tidak membawa mudarat, atau membawa mudarat tetapi
relatif kecil. Barangkali dalam gambaran kita sekarang, bahwa
kemudaratan merokok dapat pula dinyaakan tidak lebih besar dari
kemudaratan durian yang jelas berkadar kolesterol tinggi. Betapa tidak,
sepuluh tahun lebih seseorang merokok dalam setiap hari merokok belum
tentu menderita penyakit akibat merokok. Sedangkan selama tiga bulan
saja seseorang dalam setiap hari makan durian, kemungkinan besar dia
akan terjangkit penyakit berat. Kedua; berbeda dengan pandangan
sebagian besar ulama’ terdahulu, pandangan sebagian ulama sekarang yang
cenderung mengharamkan merokok karena lebih bertendensi pada informasi
(bukan bukti) mengenai hasil penelitian medis yang sangat detail dalam
menemukan sekecil apa pun kemudaratan yang kemudian terkesan menjadi
lebih besar. Apabila karakter penelitian medis semacam ini kurang
dicermati, kemudaratan merokok akan cenderung dipahami jauh lebih besar
dari apa yang sebenarnya. Selanjutnya, kemudaratan yang sebenarnya
kecil dan terkesan jauh lebih besar itu (hanya dalam bayangan)
dijadikan dasar untuk menetapkan hukum haram. Padahal, kemudaratan yang
relatif kecil itu seharusnya dijadikan dasar untuk menetapkan hukum
makruh. Hal seperti ini kemungkinan dapat terjadi khususnya dalam
membahas dan menetapkan hukum merokok. Tidakkah banyak pula makanan dan
minuman yang dinyatakan halal, ternyata secara medis dipandang tidak
steril untuk dikonsumsi. Mungkinkah setiap makanan dan minuman yang
dinyatakan tidak steril itu kemudian dihukumi haram, ataukah harus
dicermati seberapa besar kemudaratannya, kemudian ditentukan mubah,
makruh ataukah haram hukumnya. Ketiga; hukum merokok itu bisa jadi
bersifat relatif dan seimbang dengan apa yang diakibatkannya mengingat
hukum itu berporos pada ‘illah yang mendasarinya. Dengan demikian, pada
satu sisi dapat dipahami bahwa merokok itu haram bagi orang tertentu
yang dimungkinkan dapat terkena mudaratnya. Akan tetapi merokok itu
mubah atau makruh bagi orang tertentu yang tidak terkena mudaratnya
atau terkena mudaratnya tetapi kadarnya kecil. Keempat; kalaulah
merokok itu membawa mudarat relatif kecil dengan hukum makruh, kemudian
di balik kemudaratan itu terdapat kemaslahatan yang lebih besar, maka
hukum makruh itu dapat berubah menjadi mubah. Adapun bentuk
kemaslahatan itu seperti membangkitkan semangat berpikir dan bekerja
sebagaimana biasa dirasakan oleh para perokok. Hal ini selama tidak
berlebihan yang dapat membawa mudarat cukup besar. Apa pun yang
dikonsumsi secara berlebihan dan jika membawa mudarat cukup besar, maka
haram hukumnya. Berbeda dengan benda yang secara jelas memabukkan,
hukumnya tetap haram meskipun terdapat manfaat apa pun bentuknya karena
kemudaratannya tentu lebih besar dari manfaatnya. KH Arwani Faishal
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PBNU Hukum Talqin Mayyit Dalam
kitab مخنى المحتاج juz I, disebutkan bahwa menurut Imam Syafi’i dan
Imam Ahmad Ibnu Hanbal, hukum membaca Talqin bagi mayit yang sudah
mukallaf setelah selesai dikubur itu hukumnya disunahkan. Orang yang
membaca talqin itu duduk di arah kepala kuburan mayit, kemudian berkata
kepada mayit: ياَعَبْدَاللهِ ابْنَ أَمَةِ اللهِ اُذْكُرْمَا خَرَجْتَ
عَلَيْهِ مِنَ الدَّارالدُنْياَ شَهَادَةَ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ
وَاَنَّ ُمحَمَّدًارَسُوْلُ اللهِ وَاَنَّ اْلجَنَّةَ حَقٌّ وَاَنَّ
النَّارَ حَقٌّ وَاَنَّ اْلبَعْثَ حَقٌّ وَاَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ
لاَرَيْبَ فِيْهَا وَاَنَّ اللهَ َيبْعَثُ مَنْ فِى اْلقُبُوْرِ وَاَنَّكَ
رَضِيْتَ بِاللهِ رَبًّا وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنَا وَِبمُحَمَّدٍ نَبِيًّا
وَبِالقُرْآنِ اِمَامً وَبِالْكَعْبَةِ قِبْلَةً وَبِاْلمُؤْمِنِينَ
اِخْوَاناً. رواه الطبر انى فى الكبير “Ya Abdullah bin Amatillah;
ingatlah apa yang kamu keluar atasnya dari dunia ini: Kesaksian bahwa
tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan sesungguhnya Nabi Muhammad adalah
utusan Allah, sesungguhnya surga itu benar, neraka itu benar,
kebangkitan itu benar dan hari qiyamat pasti datang tidak diragukan
lagi, dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan manusia dari kubur dan
sesungguhnya engkau telah ridla bahwa Allah sebagai Tuhanmu dan Islam
agamamu dan Muhammad Nabimu dan Al-Qur’an panutanmu dan Ka’bah kiblatmu
dan orang-orang mu’min saudaramu”. (Hadits diriwayatkan Thobroni).
Menurut Imam Nawawi, walaupun hadits ini dha’if, tetapi dikuatkan oleh
beberapa hadits lain yang shahih dan firman Allah; وَذَكِّرْ فَاِءنَّ
الذِكْرَ تَنْفَعُ اْلمُؤْمِنِينَ “Dan berilah peringatan sesungguhnya
peringatan itu bermanfa’at bagi orang-orang yang beriman”. Selanjutnya,
dapat dilihat juga dalam kitab Nailul Awthar juz. IV, sebagai berikut;
رَوِيَ عَنْ رَاشِدِبْنِ سَعْدٍ وَضَمْرَةَ بْنِ حَبِيْبٍ وَحَكِيْمِ بْنِ
عَمِيرٍ قَالُوْااِذَا سَوَى عَلَى اْلمَيِّتِ وَانْصَرَفَ النَّاسَ
عَنْهُ كَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ اَنْ يُقَالَ لِلْمَيِّتِ عِنْدَ
قَبْرِهِ يَافُلاَنُ قُلْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاَشْهَدُ اَنْ
لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ يَافُلاَنُ رَبِّىَ اللهُ
وَدِيْنِ اْلإِسْلاَمُ وَنَبِيّىِ ُمحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ. رواه سعيد “Diriwayatkan dari Rasyid bin Sa’ad dan Dlamrah
bin Habib dan Hakim bin Umair mereka berkata: Apabila telah diratakan
kuburan atas mayyit dan orang-orang telah pergi mereka mensunnahkan
untuk dikatakan kepada mayyit di atas kuburnya; Yaa Fulan, katakan!
Tidak ada Tuhan kecuali Allah tiga kali; Yaa Fulan, katakan! Tuhanku
Allah agamaku Islam, Nabiku Muhammad SAW kemudian pergilah”. Dalam
kitab الحاوى للفتاوى juz. II, karya Al-Imam Sayuthi mengungkapkan:
مَارُوِيَ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى الله عليه وسلم اَنَّهُ لمَاَّ دُفِنَ
وَلَدُهُ اِبْرَاهِيْمُ وَقَفَ عَلَى قَبْرِهِ فَقَالَ يَا بُنَيَّ
اْلقَلْبُ َيحْزَنُ وَاْلعَيْنُ تَدْمَعُ وَلاَ نَقُوْلُ مَايُسْخِطُ
الرَّبَّ. اِنَّاِللهِ وَاِنَّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ يَاُبَنَيَّ قُلِ
اللهُ رَبِّى وَالإِسْلاَمُ دِيْنِى وَرَسُوْلُ اللهِ أَبِى فَبَكَتِ
الصَّحَابَةُ وَبَكَى عُمَرُبْنُ اْلَخطَّابِ بُكَاًء اِرْتَفَعَ لَهُ
صَوْ تُهُ فَاْلتَفَتَ النَبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَأَى
عُمَرَ يَبْكِى وَالصَّحَابَةُ مَعَهُ فَقَالَ يَاعُمَرُ مَا يُبْكِيْكَ ؟
فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ هَذَا وَلَدُكَ وَمَابَلَغَ اْلحُلُمَ وَلاَ
جَرَى عَلَيْهِ اْلقَلَمُ وَيَحْتَاجُ اِلىَ مُلَقِّنٍ مِثْلِكَ
يُلَقِّنُهُ التَّوْحِيْدَفىِ مِثْلِ هَذَااْلوَقْتِ. قَمَا حَالُ عُمَرَ
وَقَدْ بَلَغَ اْلحُلُمَ وَجَرَى عَلَيْهِ اْلقَلَمُ وَلَيْسَ لَهُ
مُلَقِّنٌ مِثْلُكَ, اَىُّ شَىْءٍ تَكُوْنُ صُوْرَتُهُ فِى مِثْلِ هَذِهِ
اْلحَالَةِ فَبَكَى النَّبِىُّ صَلَّى الله عليه وسلم وَبَكَتِ
الصَّحَاَبةُ مَعَهُ وَنَزَلَ جِبْرِيْلُ وَسَأَلَ النَّبِىَّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ سَبَبَ بُكَاِئِهمْ فَذَكَرَالنَّبِىَّ
صَلَّى الله عليه وسلم مَاقَالَهُ عُمَرُ وَمَاوَرَدَ عَلَيْهِمْ مِنْ
قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَعِدَ جَبْرِيْلُ وَنَزَلَ
وَقَالَ رَبُّكَ يُقْرِئُكَ السَّلاَمَ وَيَقُوْلُ يُثَبِّتُ اللهُ
اَّلذِيْنَ ءَامَنُوْابِاْلقَوْلِ الثَاِبتِ فىِ اْلحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَفِى اْلآخِرَةِ يُرِيْدُ بِذَلِكَ وَقْتَ اْلمَوْتِ وَعِنْدَ السَّؤَالِ
فِى اْلقَبْرِ.. “Diriwayatkan dari Nabi SAW bahwasannya tatkala
putranya Ibrahim telah dikubur, Rasulullah berdiri di atas kuburnya;
kemudian beliau bersabda: Wahai anakku, hati berduka cita dan air mata
mengalir. Dan kami tidak mengatakan sesuatu yang membuat Allah jadi
murka. Sesungguhnya kami dari Allah dan akan kembali kepada Allah.
Wahai anakku katakanlah! Allah Tuhanku dan Islam agamaku, dan
Rasulullah ayahku, maka menangislah para sahabat dan menangis pula pula
sayyidina Umar Ibnul Khattab dengan tangisan yang nyaring, maka menoleh
Rasulullah dan melihat Umar menangis bersama para sahabat lainnya,
Rasulullah SAW bersabda; ya Umar mengapa engkau menangis? Umar
menjawab: Ini putramu belum baligh dan belum ditulis dosanya, masih
menghajatkan kepada orang yang mentalqin seperti engkau, yang mentalqin
tauhid pada saat seperti ini, maka bagaimana keadaan Umar yang telah
baligh dan telah ditulis dosanya tidak mempunyai orang yang akan
menalqin seperti engkau, dan apa gambaran yang akan terjadi di dalam
keadaan yang seperti itu, maka menangislah Nabi SAW dan para sahabat
bersamanya; kemudian Jibril turun dan bertanya kepada Nabi sebab
menangisnya mereka, kemudian Nabi menyebutkan apa yang dikatakan Umar
dan apa yang datang kepada mereka dari perkataan Nabi SAW. kemudian
Jibril naik dan turun kembali serta berkata : Allah menyampaikan salam
kepadamu dan berfirman: Allah menetapkan orang-orang yang beriman
dengan perkataan yang tetap di dunia dan di akherat, yang dimaksud di
waktu mati dan di waktu pertanyaan di kubur.” Kepada yang masih hidup,
talqin itu mempunyai mashlahat yang sangat besar, karena dengan
mendengarnya mereka dapat mengingat dan menyiapkan diri pada kematian
dirinya. KH Nuril Huda Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)