KERAJAAN MAJAPAHIT

A. AKAR PENDIRIAN KERAJAAN MAJAPAHIT
Dalam kitab Pararaton dan Negarakretagama diceritakan mengenai keruntuhan Kerajaan Singhasari pada masa Raja Kertanegara karena serangan Raja Jayakatwang dari Daha/Kediri. Hal ini dikritisi oleh
Prof. Dr. Slamet Muljana karena dalam lempeng VII a baris 3-6 prasasti Mula-Malurung(1177C/1255M) yang dikeluarkan pada masa raja Sminingrat(Wisnuwardhana) disebutkan:
…... sira nararyya murddhaja. atmaja nira muwang.. sira sri krta¬nagara nama niran inabhiseka. pi-
nasahaken ing ngkaneng mwang ikanakasihhasana. ring nagara daha. sinewita ning bhumi kadiri. sira turuk bali. putri
nira nararyya smi ning rat. pinaka paramecwari nira sri jayakatyeng. saksat kap¬wanakanira nararyyasmi ningrat
sira pinratista ngkaneng mwang I kanakasinghasana. maka nagare glang glang, sinewita dai nikang sakala bhumi wurawan

Menurut Prof. Dr. Slamet Muljana dalam bukunya yang berjudul Tafsir Sejarah Negara Kretagama halaman 116-117 disebutkan:

Versi Negarakretagama dan Pararaton yang mengatakan bahwa Jayakatwang adalah raja Kediri perlu dibetulkan karena menurut prasasti Mula-Malurung, Jayakatwang adalah raja Gelang-Gelang berkat perkawinanya dengan Nararya Turukbali, puteri Sang Prabu Seminingrat. Yang menjadi raja Kediri sejak tahun 1254 sampai 1292 ialah raja Kertanegara. Jadi, serangan Jayakatwang terhadap Singasari pada tahun 1292 dilancarkan dari Gelang-Gelang; bukan dari Kediri seperti diuraikan dalam pararaton dan Negarakretagama serta beberapa kidung. Prasasti Mula-Malurung mengatakan dengan jelas bahwa Jayakatwang adalah kemenakan Raja Seminingrat, jadi saudara sepupu dengan Kertanegara, menurut Prasasti Penanggungan, 1296, Jayakatwang menduduki ibu kota Daha dan memerintah Singasari sebagai Negara bawahan. Kidung Harsawijaya berulang kali menyebut Jayakatwang Raja Kediri, sehingga utusan Bupati Wiraraja dari Sumenep datang ke Kediri untuk memberi tahu sang prabu supaya serangan terhadap Singasari segera dilancarkan, kesempatan yang baik jangan dibiarkan lewat. Mahisa Mundarang memberikan nasihat yang serupa dan menyebut Jayakatwang keturunan Raja Kertajaya. Berdasarkan Prasasti Mula-Malurung, utusan Wiraraja itu dikirim ke Gelang-Gelang, tidak ke Kediri. Kidung Harsawijaya mengatakan bahwa Sri Kertanegara tidak khawatir tentang akan adanya kemungkinan serangan dari Kediri, karena ia percaya bahwa Raja Jayakatwang tidak akan menyalah-gunakan kebaikan sang prabu, yang telah sudi mengangkatnya sebagai raja Kediri. Uraian di atas tidak tepat, karena yang mengangkat Jayakatwang sebagai raja ialah Nararya Seminingrat menurut prasasti Mula-Malurun g, bukan Raja Kertanegara. Lagi pula, Jayakatwang tidak diangkat sebagai raja Kediri, melainkan sebagai raja Gelang-Gelang. Seperti ditunjukkan di atas, baru pada tahun 1292, Jayakatwang menjadi raja Kediri.

Dari uraian di atas sekilas alasan yang dikemukakan Prof. Dr. Slamet Muljana sangatlah kuat karena berlandaskan sumber data utama yaitu Prasasti Mula-Malurung yang berangka tahun 1177C/1255M, masa raja Seminingrat, raja Singhasari dan Prasasti Penanggungan berangka tahun 1218C/1296M pada masa Raja Sangramawijaya, raja pertama Majapahit. Namun bila dianalisa lebih lanjut ada beberapa hal dalam peryataan di atas yang janggal.

Prof. Dr. Slamet Muljana menolak angka tahun 1193C/1271M sebagai tahun bertahtanya Jayakatwang sebagai raja di Kadiri, padahal informasi tersebut diberitakan dalam Negarakretagama pupuh 44/2 karya Prapanca seorang penulis keraton. Beliau yakin bahwa Jayakatwang sebelum runtuhnya kerajaan Singhasari tidak pernah menjadi raja di Kadiri, karena dalam Prasasti Mula-Malurung disebutkan bahwa yang bertahta di Daha wilayah bumi Kadiri adalah Nararya Murdhaja atau Kertanegara sebagai Yuwaraja (Putra Mahkota/Raja Muda), sedangkan Jayakatwang sebagai raja bawahan di Gelang-Gelang wilayah Wurawan (Ngurawan). Menurutnya Kertanegara bertahta di Kadiri dari tahun 1254M/1176C sampai 1292M/1214C.

Perlu diingat prasasti Mula-malurung berangka tahun 1177C/1255M dan raja yang berkuasa adalah raja Sminingrat ayah dari Kertanegara. Sedangkan Kertanegara juga sebagai raja namun masih sebagai Yuwaraja. Hal ini sesuai pemberitaan dalam Negarakretagama Pupuh 41/3 bahwa pada tahun 1176C/1254M raja Wisnu (Sminingrat) menobatkan putranya (Nararya Murdhaja, sebagai Yuwaraja bertahta di Daha/Kediri) dan nama abishekanya adalah raja Kertanegara. Jadi, pengeluaran Prasasti Mula-Malurung berjarak kurang lebihnya satu tahun setelah Kertanegara dinobatkan sebagai Yuwaraja yang bertahta di Daha bumi Kadiri. Kemudian pada bait ke-4 diberitakan pada tahun 1192C/1270M raja Wisnu berpulang (meninggal dunia). Nah! Dari sinilah muncul pertanyaan, jika menurut Prof. Dr. Slamet Muljana antara tahun 1254M/1176C sampai 1292M/1214C Kertanegara masih menjadi Raja di Kadiri, lalu siapakah pengganti Raja Sminingrat yang telah meninggal pada tahun 1192C/1270M dan bertahta di Singhasari yang menguasai seluruh wilayah Panjalu-Jenggala? Kalau kurun waktu kekuasaan Kertanegara di Kadiri benar seperti itu berarti Keraton Singhasari harus dilokasikan di daerah Kediri sekarang, karena pada tahun 1292M Jayakatwang menyerang Kertanegara di dalam ibukota kerajaannya dari dua arah, sampai akhirnya runtuh?.

Penafsiran bahwa Kertanegara bertahta di Kadiri sampai tahun 1214C/1292M, seperti diatas tidak perlu terjadi bila analisanya sebagai berikut:
Pada tahun 1176C/1254 M Raja Wisnu(Sminingrat) menobatkan Putranya sebagai Raja bergelar Sri Kertanegara. Pada waktu ini Kertanegara tidaklah dinobatkan sebagai raja Utama dalam kerajaan Singhasari, melainkan hanya sebagai Yuwaraja yang bertahta di Daha bumi Kadiri, sebagai persiapan untuk menjadi raja utama. Hal ini dapat digali dari Sumber sejarah Kitab Negarakertagama pupuh 41/3 dan dalam prasasti Mula-malurung lempeng VII a baris 3-6 tentang penempatan Kertanegara di Kadiri.
Pada tahun 1177C/1255M Seluruh raja-raja yang diangkat oleh Sminingrat dan dikepalai oleh Sri Kertanegara mengeluarkan Prasasti Mula-Malurung. Dari sumber sejarah primer ini kita dapati informasi tentang kedudukan Kertanegara sebagai Raja di Kadiri sedang Jayakatwang bertahta di Gelang-gelang daerah Wurawan. Semua raja di jawa terutama di eks-Panjalu-Jenggala, tunduk kepada raja yang berkuasa pada waktu itu, yaitu raja Sminingrat.
Pada tahun 1192C/1270M Raja Seminingrat meninggal, sebagai putra mahkota maka Sri Kertanegara harus meletakkan jabatannya di Kadiri dan naik ke singgasana utama yaitu menjadi Raja Utama kerajaan Singhasari di ibu kota Singhasari (daerah Malang sekarang) menggantikan ayahnya Prabu Sminingrat. Bila Kertanegara bertahta di Singhasari otomatis tahta di Kediri Kosong, maka perlu dilimpahkan kepada salah satu orang dekat raja. Siapakah dia? apabila dikorelasikan dengan berita dalam Negarakertagama pupuh 44/2 yang menyatakan bahwa tahun 1193C/1271M (satu tahun setelah mangkatnya Raja Sminingrat) Raja Jayakatwang menjadi Raja di Kediri, maka jelaslah bahwa orang tersebut adalah raja Jayakatwang. Jadi Jayakatwang adalah raja bawahan Singhasari di Gelang-Gelang (sesuai prasasti Mula-Malurung 1177C/1255M) namun pada tahun 1193C/1271M oleh Sri Kertanegara dibantu untuk menjadi raja di Kadiri, tanah leluhur Jayakatwang, daerah istimewa nomer dua setelah ibu kota Singhasari.
Mengenai Prasasti Kudadu 1216C/1294M yang menyebutkan bahwa Jayakatwang yang telah menyerang Singhasari adalah raja dari Gelang-Gelang tanpa menyinggung daerah Kediri ini tidaklah perlu diambil pusing. Bila kita analisa cerita-cerita panji dan beberapa Kakawin, maka peristiwa pembelahan kerajaan pada masa Airlangga tidaklah hanya menjadi dua bagian, namun lebih dari itu. Dalam cerita panji ada empat negeri utama yaitu Panjalu(Kadiri), Jenggala, Kahuripan, dan Ngurawan. Dari empat kerajaan utama tersebut terjadi koalisi yaitu Panjalu (Kadiri) dengan Ngurawan dan Jenggala dengan Kahuripan. Penyebutan Jayakatwang sebagai raja Gelang-Gelang merupakan bukti bahwa setelah dinobatkan sebagai Raja di Kadiri oleh Sri Kertanegara beliau tetap menguasai negeri Gelang-Gelang. Bahkan dalam Prasasti Penanggungan 1218C/1296M disebutkan bahwa Jayakatwang telah menduduki ibukota Daha dan memerintah Singhasari sebagai negeri bawahan setelah penyerangan ke Singhasari tahun 1292M.
Mengenai Kidung Harsawijaya yang mengatakan bahwa Sri Kertanegara tidak khawatir tentang akan adanya kemungkinan serangan dari Kediri, karena ia percaya bahwa Raja Jayakatwang tidak akan menyalah-gunakan kebaikan sang prabu, yang telah sudi mengangkatnya sebagai raja Kediri. Uraian tersebut janganlah dilihat sebagai kesalahan, namun seharusnya Prof. Dr. Slamet Muljana melihatnya sebagai penguat bahwa Jayakatwang yang leluhurnya penguasa Kediri diberikan kepercayaan besar oleh Maharaja Kertanegara memerintah di tanah leluhurnya di bumi Kadiri (eks-Panjalu). Raja Sminingrat memang mengangkat Jayakatwang sebagai raja, tapi itu di negeri Wurawan yang beribu kota di Gelang-Gelang, bukan di Kadiri yang beribu kota di Dahanapura sebagai tanah suci para leluhur. Setelah diberi kehormatan bertahta di tanah leluhurnya di Kadiri, membuat Jayakatwang berhutang besar kepada raja Kertanegara, oleh karena itu Sri Kertanegara tidak menaruh curiga terhadap raja Jayakatwang akan pemberontakan yang dilakukan iparnya tersebut, apalagi Ardharaja anak Jayakatwang dijadikan menantu Sri Kertanegara.


Hal yang menjadi pertanyaan besar sekarang adalah mengapa Sri Kertanegara mempercayakan tahta nomer dua kepada Jayakatwang? Apakah ada hubungannya dengan Ardharaja sebagai menantu sekaligus calon pengganti Raja Kertanegara? Kalau Ardharaja disiapkan untuk menjadi pengganti Sri Kertanegara, untuk apa Jayakatwang menyerang Singhasari? toh pasti menjadi hak Ardharaja sebagai wakil istrinya menjabat sebagai Raja. Lalu bagaimana posisi Raden Wijaya sebagai keturunan Narasinghamurti yang sangat berjasa dan dekat dengan Raja Sminingrat? Bahkan kalau dirunut Raden Wijaya juga punya hak yang lebih besar sebagai Mantu raja dibanding Ardharaja?hal-hal tersebut masih perlu diselidiki.

Perlu di ketahui bahwa sejak Raja pertama Tumapel yaitu Sri Ranggah Rajasa berkuasa, Kadiri dijadikan ibu kota kerajaan kedua, dengan diberikan kepada putra mahkotanaya, yaitu Bhathara Paramecwara(dalam prasasti Mula-Malurung) yang disamakan dengan tokoh Mahisa Wongateleng dalam Pararaton sebagai anak Sri Ranggah Rajasa tertua (hasil analisa Prof. Dr. Slamet Muljana). Ternyata kebiasaan ini berlaku sampai Raja Sminingrat yang meletakkan Putra mahkotanya, yaitu Sri Kertanegara sebelum menjadi Maharaja di Tumapel-Singhasari bertahta dahulu di Daha bumi Kadiri. Hal ini ternyata menimbulkan polemik baru tentang teori dua keraton yang saling bersaing dari berita yang tersirat dalam prasasti Mula-Malurung (meneruskan tradisi Panjalu dan Jenggala) dan satu keraton yang penuh intrik perebutan kekuasaan dalam Pararaton, juga Negarakretagama.

Baiklah saatnya kembali ke pembahasan utama yaitu Akar pendirian Kerajaan Majapahit oleh Raden Wijaya. Setelah Singhasari diruntuhkan Raja Jayakatwang maka Raden Wijaya yang lolos dari penyerangan ke puri Singhasari mencari perlindungan ke Madura yaitu adipati Wiraraja di Sumenep, hal ini sesuai dengan berita dalam Kidung Panji Wijayakrama, kitab Pararaton dan Sumber primer Prasasti Kudadu yang di keluarkan oleh Sangrama Wijaya berangka tahun 1216C/1294M mengenai proses pelariannya menuju Sumenep.

Wiraraja bukanlah tokoh asing lagi, pada masa Singhasari dia adalah tokoh yang dalam Pararaton berhasil menghasut Jayakatwang untuk segera menyerang Singhasari. Dalam dunia Politik dia ahli dalam bidang strategi. Hal ini terbukti dengan usulan agar Raden Wijaya berpura pura Menghamba kepada Raja Jayakatwang. Setelah mendapat kepercayaan, Wiraraja menyuruh agar Raden Wijaya meminta hutan orang Trik. Kemudian Wiraraja mengirim orang-orang Madura dan raden Wijaya mengerahkan orang Tumapel untuk membuka hutan tersebut untuk dijadikan desa. Saat pembukaan hutan ada salah satu prajurit yang lapar lalu memakan buah Maja namun terasa pahit sekali. Dari kejadian tersebut dinamakanlah desa tersebut Maja-Pahit.

B. LOKASI AWAL IBU KOTA KERAJAAN MAJAPAHIT



Sesuai sumber Kitab Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama, lokasi daerah yang diminta Raden Wijaya adalah hutan belantara yang masuk wilayah orang Trik. Persoalannya dimanakah lokasi Trik ini? Sampai sekarang daerah yang memiliki bukti-bukti besar bekas keraton agung Majapahit adalah Trowulan, daerah yang terletak di ujung Selatan Kab. Mojokerto. Namun apakah hutan Trik yang dibuka menjadi Desa Majapahit oleh raden Wijaya adalah di Trowulan ini? Baiklah mari kita analisa bersama-sama dengan melihat sumber-sumber sejarah yang ada dan Fakta-fakta yang berada di Lapangan.
Majapahit didirikan di atas Tanah yang dahulunya adalah Hutan belantara milik orang Tarikberarti di daerah yang minimal agak jauh dengan pemukiman penduduk kampung. Lalu bagaimanakah Trowulan? Bila syaratnya adalah tanah hutan yang agak jauh dari pemukiman penduduk pada masa itu, jelas di daerah Trowulan tidak cocok bila memposisikan Majapahit awal disana. Hal ini berdasarkan di daerah sekitar penemuan situs bekas Keraton di Trowulan adalah bekas pemukiman Kuno. Bukti tentang hal tersebut sangatlah jelas yaitu ditemukannya “Prasasti Alasanta”yang dikeluarkan oleh Raja Mpu Sindok pada tahun 861C/939M. Prasasti tersebut memberikan informasi tentang pemberian tanah sima Alasanta kepada Rakryan Kabayan, dan dihadiri oleh para rama dari desa desa sekitar sebagai saksi pada peresmiannya. Dari nama-nama desa yang tertera pada isi prasasti tidak ada yang menyebutkan daerah Trik. Kemudian Prasasti Kamban yang di keluarkan oleh Sri Maharaja Rake Hino Sri Isanawikrama Dyah Matanggadewa pada tahun 893C, ditemukan di dukuh Pelem, desa Temon, kecamatan Trowulan, kabupatan Mojokerta.
Prasasti Alasanta ditemukan sekitar 45m barat daya Candi Brahu di wilayah desa Bejijong, sebelah utara desa Trowulan. Pada lempengan III.9-12 prasasti ini disebutkan para rama dari desa-desa di sekitar Alasanta yang hadir sebagai saksi pada peresmiannya menjadi sima. Berturut-turut disebutkan: rama ryy alasantan, rama ri lmah tulis, rama i skarbila, rama i lbuh runting, rama i Padanga, rama i tirim panda, rama ing lapan rupa dan rama i wulu taj (Wibowo,A.S.1979: 15). Penyebutan desa Lmah tulis setelah desa Alasanta itu mengindikasikan daerah tersebut saling berdekatan, faktanya desa Kedungwulan yang (dahulu bernama Lmah tulis)terletak di desa Bejijong, tempat penemuan Prasasti Alasanta. Kemudian nama wanua i Tangunan (III.3) masih bisa kita temukan di sebelah tenggara trowulan sekarang. Nama wahuta i pageruyung (III.8-9)sekarang ada di desa pagerluyung sebelah utara trowulan. Nama rama I padangan masih terdapat pada desa padangan sebelah timur laut Trowulan. Dari data-data di atas jelaslah bahwa daerah Trowulan pada masa awal Majapahit adalah daerah yang cukup ramai di kelilingi pemukiman penduduk sejak masa Mpu Sendok sampai sekarang. Jadi identifikasi Trik di sekitar Trowulan kurang tepat, apalagi tidak adanya informasi tentang istilah Trik dalam prasasti Alasanta.
Trowulan yang dahulu masuk daerah Alasanta dan juga daerah lmah tulis pastinya ramai dikunjungi para tokoh-tokoh dari Daha. Apalagi daerah lmah tulis (lmah Citra) bila dihubungkan dengan Tokoh Mpu Barada yang beragama Budha tentulah daerah ini sangat terkenal atas jasa-jasa sang Mpu yang dahulu pernah membelah Kerajaan raja Airlangga menjadi Panjalu dan Jenggala. Candi Brahu, dan Candi Gentong di daerah Bejijong yang bercorak agama Budha, menimbulkan penafsiran bahwa daerah tersebut sejak masa Airlangga sampai Majapahit merupakan daerah ke Budhaan, maka pantaslah pertapa Baradha tinggal di sana.

Sekilas Trowulan secara geografis cukup menguntungkan bila dijadikan pusat ibu kota kerajaan Majapahit yang menguasai Negara-negara di lima penjuru mata angin. Lokasinya yang ditengah-tengah jawa bagian timur menjadikannya lebih mudah untuk mengontrol Negara-negara bawahan utamanya, seperti Daha, Tumapel, Canggu-Ujunggaluh, Madura dan Tuban. Sebagai tempat pertahanan dari serangan luar jawa memang pantas karena sebelum menuju ibu kota di Trowulan musuh dari luar pasti mendarat di kota-kota pelabuhan yang telah dikuasainya. Selanjutnya menuju benteng-benteng pertahanan yang berlapis di daerah-daerah panca ring Wilwatikta sebelum akhirnya kepusat keraton Majapahit di Trowulan.Namun bila Wiraraja seorang yang ahli dalam strategi politik dan perang, maka penempatan Ibu kota kerajaan pada awal pendiriaanya di Trowulan tidak begitu menguntungkan. Selain dekat dengan musuh utamanya di Kadiri daerah Trowulan juga cukup jauh dengan kota pelabuhan yang dapat menghubungkan dengan daerah sekutunya di Madura. Kecuali daerah Canggu, Terung, dan Kambang sri dikuasai oleh Raden Wijaya, namun sesuai informasi dari Prasasti Kudadu daerah-daerah tersebut telah di kuasai prajurit Daha saat pelariannya ke Madura. Hal ini menjadikan Trowulan sangat rawan bila dijadikan basis pertahanan untuk pemberontakan terhadap Jayakatwang di Kadiri. Selain itu jalur Kadiri-Penanggungan melewati Trowulan, dimana pusat sakral, terutama dinasti isana ada di gunung leluhur raja-raja Panjalu-Jenggala tersebut. Bila Jayakatwang meruntuhkan Singhasari karena salah satu sebabnya ingin balas dendam ataupun bercita-cita luhur mengembalikan kehormatan keluarga raja-raja Kadiri (Panjalu) yang berakar dari dinasti Isana, maka jelas daerah seperti Daha dan Penanggungan adalah daerah Sakral leluhur Jayakatwang yang tidak luput dari pengawasan pasukannya.
Kalau Trowulan bukan Trik, lalu dimana sesungguhnya Trik berada? Bila kita buka peta Kab. Sidoarjo sekarang maka pada ujung Baratnya terdapat Kecamatan Tarik. Kecamatan ini berada antara perpecahan Sungai Mas yang menuju Canggu lalu Ujunggaluh dan Sungai Porong. Toponimi nama Trik sekarang menjadi Tarik. Namun cukup sulit untuk menemukan Lokasi ibukota kerajaan Majapahit.Tulisan ibu Ingrit H.E Pojoh yang berjudul Medowo Sebagai Kota Majapahi, dalam Berkala Arkeologi Edisi Khusus halaman 216-217 (1994) dapat menguak misteri tersebut, disebutkan bahwa:Medowo adalah nama sebuah dukuh yang terletak di delta sungai Brantas, kurang lebih 5 kilometer sebelah timur percabangan sungai Brantas menjadi Sungai Mas(Surabaya) dan sungai Porong. Mayoritas wilayah dukuh ini secara administratif termasuk dalam wilayah desa Gampingrowo, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur


Penelitian di Medowo dilakukan Balai Arkeo¬logi Yogyakarta pada tahun 1986 memperlihatkan bahwa pada permukaan tanah banyak ditemukan indikator desa sekaligus merupakan situs arkeo¬logi. Tinggalan arkeologis tersebut antara lain tembikar, keramik, bata, genteng, sumur kuno, lumpang batu, dan batu calon prasasti (Kusumo¬hartono 1990:48). Secara sederhana, situs ini memperlihatkan ciri situs permukiman dari perio¬de Hindu-Buda. Pengujian lebih lanjut atas hasil penelitian pada situs Medowo yang luasnya sekitar ~ X400 meter ini menunjukkan bahwa (1) tembikar dari situs Medowo memperlihatkan ciri Majapahit seperti halnya tembikar Trowulan; (2) keramik-ke¬ramik Cina berasal dari masa yang berasal an¬tara abad ke-13 hingga 14 Masehi; dan (3) anaisis karbon (C14) menunjukkan masa antara 1202-1440 M (Siswanto dkk., 1992). Selain itu, te¬muan penggalian berupa struktur bata juga mem¬perlihatkan kesamaan ukuran bata, pola ikat ba¬ta, dan kemiringan orientasi dengan struktur bata yang dijumpai di situs Trowulan.

Dengan demikian, dapatlah situs Medowo ini ditempatkan pada masa yang sama dengan Majapahit. Dengan melihat persamaan artefak dan fitumya, maka sangatlah jelas bahwa baik Medowo maupun Trowulan adalah bekas sebuah permukiman kuno. Persoalan baru muncul apabi¬la dipertanyakan apakah ada hubungan antara Medowo dengan Trowulan? Tentu saja ada, Medowo adalah pemukiman kuno yang memiliki struktur hampir sama dengan situs di trowulan. Bedanya situs Medowo di wilayah Trik sedang Trowulan jauh di pedalaman di daerah Alasanta dan Lmah Tulis. Jadi bila dikorelasikan dengan sumber sejarah Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama maka penulis lebih condong melokasikan ibukota Kerajaan Majapahit yang di bangun Raden Wijaya ada di daerah yang sekarang berada di Desa Gampingrowo Kec. Tarik Kab. Sidoarjo tersebut. Ada beberapa alasan identifikasi daerah Tarik sebagai Trik ibu kota Majapahit awal:
Toponimi nama Tarik dengan Trik, dari istilah tersebut jelas memiliki kemiripan, hanya saja istilah sekarang ditambahi sisipan vokal ”a” menjadi”Tarik” . Jadi nama desa dan Kecamatan Tarik adalah nama daerah yang dahulu di sebut Trik.
Lokasi desa Gampingrowo dengan desa Tarik sekarang berjarak sekitar 4 km. Sekitar 6 km ke timur laut terdapat Waringin pitu (lokasi bendungan Waringin Sapta masa Airlangga), sekitar 7,5 km kearah timur lokasi dukuh Kelagen desa Watutulis tempat penemuan prasasti Kamalagyan (Masa Airlangga)dan bila 4 km kearah utara terdapat desa Canggu di seberang sungai Brantas, sekarang masuk kecamatan Jetis, Kab. Mojokerto. Hal ini berbeda dengan situs Trowulan dimana jarak situs Keraton Majapahit dengan situs masa sebelumnya sangat dekat bahkan satu lokasi.
Kembali pada tokoh Wiraraja sebagai ahli strategi. Dilihat dari letak Geografisnya jelas sekali desa Gampingrowo sangatlah strategis sebagai tempat konsolidasi. Selain dahulu hutan belantara, namun tidak jauh pula dengan urat nadi perekonomian kerajaan-kerajaan pedalaman terdahulunya, seperti Singhasari, Panjalu-Jenggala dan Dinasti Isana, yaitu dekat dengan Pelabuhan Canggu, bendungan Waringin Sapta dan Muara sungai Brantas Ujunggaluh-Rembang juga Sungai Porong. Selain jauh dari pusat ibukota Dahanapura, dan tersembunyi di sekitar hutan orang Trik, dengan leluasa pasukan baru majapahit mengembangkan kekuatannya yang berasal dari Madura dan Tumapel. Terlebih dahulu mereka bisa menguasai daerah sekitar Trik seperti Ujunggaluh, Canggu dan semua delta Brantas, maka hal ini akan melumpuhkan sendi perekonomian kerajaan Jayakatwang di Daha. Dari sinilah kita dapat melihat kecemerlangan strategi tokoh Wiraraja, khususnya dalam melumpuhkan kerajaan Jayakatwang di Daha.
Pelabuhan Canggu berada di sebelah utara daerah Trik, hal ini sangat menguntungkan, karena pendiri pelabuhan dan sekaligus benteng Canggu adalah Raja Sminingrat atau Wisnuwardhana ayah dari raja Kertanegara raja besar Singhasari. Walau bagaimanapun pejabat-pejabat benteng sekaligus pelabuhan Canggu memiliki hutang budi terhadap keturunan dan keluarga Raja Wisnuwardhana. Dalam Prasarsti Kudadu pun dijelaskan pada waktu Raden Wijaya dalam pelarian dari kejaran pasukan Jayakatwang, beliau berniat mencari suaka ke desa Terung dan sekitarnya. Hal ini dikarenakan akuwu Rakriyan Wuru Agraja, yang diangkat sebagai akuwu oleh mendiang Sri Kertanegara, dengan harapan memperoleh bantuan darinya untuk mengerahkan penduduk daerah timur dan timur laut Terung (Muljana, 2007:120-121) Dari sini kita ketahui bahwa di daerah delta Brantas masih banyak kepala-kepala daerah yang memiliki hutang budi dengan keluarga Singhasari. Hal ini pulalah yang di jadikan alasan penempatan ibukota di Trik yang berada di antara percabangan sungai Brantas (S. Mas dan S. Porong).
Pelokasian beberapa tokoh sejarawan bahwa Trowulan dahulu termasuk wilayah Trik kurang dapat diterima. Hal ini berlandaskan antara Trowulan dengan Trik selain cukup jauh juga tanahnya terbelah oleh Sungai besar Brantas. Kebiasan orang dahulu, batas suatu daerah adalah alam, seperti hutan, bukit dan Sungai. Bila Trowulan wilayah Trik maka dimanakah nama daerah Alasanta dan Lmah tulis berada? Bila nama daerah sekaliber Alasanta dan Lmah Tulis tidak di kenal, maka sebesar apakah daerah Trik dalam pengukiran sejarah kerajaan-kerajaan sebelum Majapahit?Apakah desa Alasanta tempat prasasti Mpu Sindok dan Lmah Tulis tempat Mpu Barada termasuk wilayah Trik? Hal ini kurang dapat diterima, karena daerah situs trowulan dahulu lebih terkenal nama-nama desa yang tertera dalam prasasti Alasanta dan Negara Kretagama, tanpa adanya nama Trik.
Dari beberapa alasan tersebut maka Situs Medowo, desa Gampingrowo, kec Tarik kab. Sidoarjo, dapat diidentifikasi sebagai bukti bekas lokasi ibu kota kerajaan Majapahit yang didirikan oleh raden Wijaya antara tahun 1214-1215C/1292-1293M. Kalau ibukota kerajaan di Tarik lalu situs apakah yang ada di Trowulan?


C. PEMINDAHAN IBUKOTA KERAJAAN MAJAPAHIT




Sesuai dari data rekonstruksi para ahli arkeologi yang disesuaikan dengan kitab Negarakretagama maka situs Trowulan, Mojokerto adalah bekas Keraton Majapahit. Hal ini jangan diruetkan, karena ibu kota kerajaan Majapahit sama dengan yang lain pernah mengalami perpindahan ibukota kerajaan. Contoh konkrit perpindahan kerajaan masa Hindu-Budha adalah kerajaan Mataram masa Mpu Sindok dalam prasasti Turyan (851C/929M) disebutkan ibu kota kerajaan di Tamwlang namun dalam prasasti lain seperti Prasasti Anjukladang(859C/937M) ibu kota kerajaan berpindah di Watu Galuh; lalu pada masa Panjalu/Kadiri yang awalnya di Dahanapura, tiba-tiba dalam prasasti Kamulan (1116C/1194M) masa Raja Kretajaya berada di Katang-Katang; dan Masa Kerajaan Tumapel-Singhasari ibukota Kutaraja(Kota Bedah, Kota Malang) di pindah ke Singhasari (daerah kec. Singosari, Kab. Malang). Jadi Kerajaan Majapahit yang awalnya beribukota di daerah Trik di pindahkan ke daerah Trowulan sekarang. Namun muncul lagi pertanyaan, sejak kapan ibu kota kerajaan dipindah ke Trowulan?

Ada beberapa alasan untuk memindahkan kerajaan salah satunya yang paling sering dijumpai adalah Konsep kepercayaan bila sebuah keraton telah ternoda maka harus dipindah untuk mensucikannya. Contoh perpindahan ibukota kerajaan Tumapel-Singhasari, yang awalnya beribukota di Kutaraja dipindah ke daerah Singosari. Pemindahan ini berlangsung pada tahun 1176C/1254M (Negarakretagama 41/3) atau enam (6) tahun setelah mangkatnya Raja Anusapati yaitu pada tahun 1170C/1248M (Negarakretagama 41/1), dan empat(4) tahun setelah penyerangan terhadap Tohjaya pada tahun 1172C/1250M sesuai Pararaton. Jadi pemindahan pusat ibukota dan penggantian nama dari Kutaraja menjadi Singhasari dikarenakan ketidak seimbangan kosmis akibat penodaan keraton dari pada peperangan antara keluarga Anusapati-Wisnuwardhana Cs Vs Tohjaya.

Bila Tohjaya yang dalam Prasasti Mula-Malurung menjadi raja menggantikan adiknya, Raja Guning Bhaya, maka pristiwa pembunuhan Anusapati oleh Tohjaya tahun1170C/1248M (dalam Pararaton) sangatlah kompleks. Hal ini disebabkan kedudukan antara Anusapati dan Tohjaya adalah sama-sama seorang Raja. Bedanya, menurut Prof. Dr. Slamet Muljana, Anusapati Bertahta di Kutaraja, Tumapel, sedang Tohjaya bertahta di Daha, Kadiri. Hal ini seolah-olah memperpanjang cerita permusuhan keluarga antara Kerajaan Panjalu yang diwakili Tohjaya melawan Jenggala yang diwakili Anusapati. Hal ini menimbulkan perpecahan lagi setelah Sri Ranggah Rajasa berhasil menyatukan Panjalu-Jenggala pada tahun 1222M, namun perpecahan ini akhirnya di satukan kembali oleh persatuan Raja Wisnuwardhana-Narasinghamurti pada tahun 1172C/1250M. Pada tahun 1214C/1292M terbukti drama permusuhan antara Panjalu vs Jenggala terulang lagi dengan Keruntuhan Singhasari (Jenggala) oleh Jayakatwang dari darah Panjalu-Kadiri. Akhirnya Raden Wijaya menyatukan lagi pada tahun 1215C/1293M dan membangun keraton baru di wilayah Trik.

Untuk pemindahan Keraton Majapahit dari wilayah Trik ke daerah kuna Alasanta atau Lmah Tulis, yang sekarang Trowulan, maka dicari terlebih dahulu peristiwa penodaan keraton di Trik. Pada masa Raden Wijaya bertahta dengan nama Abishekanya Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardana di temukan beberapa peristiwa pemberontakan. Menurut pararaton pada tahun 1217C/1295M terjadi pemberontakan Rangga Lawe dan 1222C/1300M terjadi pasora namun keduanya dapat ditumpas. Sampai akhir masa jabatan Raden Wijaya semua dapat di atasi, jadi sampai beliau wafat ibu kota kerajaan dapat di lindungi dari upaya-upaya penodaan.

Pada masa raja kedua Majapahit, yaitu Raja Jayanegara putra Raden Wijaya yang bertahta pada tahun 1231C/1309M, terdapat pula beberapa pemberontakan. Menurut Negarakretagama (48/2)Peristiwa Perang Lumajang berlangsung pada tahun 1238C/1316M, namun peristiwa ini tidak menyentuh keraton karena peperangan terjadi di Lumajang.

Kemudian peristiwa yang dapat menggegerkan keseimbangan kosmologis sekaligus menodai kesucian Keraton Majapahit di Trik adalah Pemberontakan Kuti pada tahun1241C/1319M yaitu Sembilan(9) tahun sebelum mangkatnya Raja Jayanegara (Muljana,2005:236). Peristiwa ini dalam pararaton di jelaskan telah berhasil menguasai keraton, namun Raja Jayanegara berhasil diselamatkan oleh Bekel Gajah Mada menuju desa Bedander. Tidak begitu lama peristiwa ini berlangsung, setelah Gajah Mada berhasil menguasai keraton lagi maka Rajapun pulang ke Kraton. Dari peristiwa ini di ketahui bahwa raja kembali lagi kekeratonnya, yang semestinya masih di daerah Trik. Hal ini bukan berarti Jayanegara tidak memindahkan keratonnya setelah pemberontakan Kuti yang berhasil menduduki ibu kota kerajaan.

Hal kembalinya seorang raja ke Keratonnya setelah terjadi penyerangan ataupun dikuasainya keraton oleh musuh bukanlah hal baru. Hal ini sering terjadi bahkan di sebutkan dalam sumber-sumber tertulis. Contoh dalam Prasasti Pucangan (963C/1041M) dan Prasasti Terep I (954C/1034M) mengenai penyerangan keraton Airlangga di Wwatan Mas sehingga Raja mengungsi, namun setelah musuh dapat di usir Rajapun kembali lagi. Pada Masa Panjalu-Kadiri, dalam prasasti Kamulan (1116C/1194M) masa raja Kretajaya waktu dapat serangan dari sebelah Timur(mungkin daerah Tumapel) disebutkan“....lagi kilala mwang kalasana decanya padapuran Cri Maharaja tatkala ni…n kentar sangke kadatwan ring Katangkatang deni

Nkin malr yatik kaprabhun Cri Maharaja siniwi ring bumi Kadiri..”( Bataviaasch Genootschap, 1913:173 )

Prasasti ini mengenai permohonan para samya haji katandan sapakat, karena telah mengembalikan raja ke atas singasana di bumi Kadiri, setelah sebelumnya terpaksa meningalkan istananya di Katangkatang karena ada serangan musuh dari timur (sebelah Timur Kadiri?jangan-jangan Tumapel).

Kemudian peristiwa Pertumpahan darah antara Kerajaan yang di pimpin Tohjaya dengan Kerajaan Anusapati dengan hasil kematian Anusapati di Tumapel pada tahun 1170C/1248M, namun penerusnya yaitu Sminingrat tetap bertahta di Kutaraja. Namun pada tahun 1176C/1254M ibu kota dipindahkan ke Singhasari. Antara tahun kematian Anusapati dengan pemindahan kerajaan berselang enam (6)tahun, dan empat (4) tahun setelah suasana politik setabil karena ditaklukkannya Raja Tohjaya. Jadi membutuhkan bertahun-tahun untuk memindahkan kerajaan supaya layak dihuni sesuai syarat kosmologi yang berlaku.

Sama juga dengan proses pemindahan ibukota Majapahit dari daerah Tarik ke Trowulan, membutuhkan waktu yang tidak singkat. Sebuah pemberontakan/penyerangan biasanya datang secara tiba-tiba, namun untuk menentukan lokasi ibu kota dan proses pemindahan ibu kota baru sangatlah memakan waktu. Jadi Setelah pemberontakan Kuti yang mendadak berhasil ditumpas, maka Raja untuk sementara kembali ke Kraton yang lama untuk menunggu pembangunan Keraton yang baru, yaitu di daerah yang sekarang di sebut Trowulan. Hal ini terbukti dari Negarakretagama 48/3 bahwa pada tahun 1250C/1328M Raja Jayanegara meninggal dan salah satu tempat pendharmaannya selain di dalam Pura sebagai Wisnuparama juga disebutkan Bubat ditegakkan arca Wisnu. Apabila Bubat yang dimaksud sama dengan nama lapangan yang dipakai dalam peristiwa Pasundan Bubat pada masa Raja Hayam Wuruk, maka Keraton yang dimaksud adalah Keraton yang sekarang berada di Trowulan. Karena dalam Negarakretagama 86/1 (Muljana,2007:399) di sebutkan:

Dua hari kemudian berlangsung perayaan besar di utara kota terbentang lapangan bernama Bubat sering dikunjungi Baginda, naik tandu bersudut tiga Diarak abdi berjalan, membuat kagum tiap orang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar